Teal Dancing Banana
RSS

Aku Ini Binatang Jalang

  

CHAIRIL ANWAR  
Siapa yang tak mengenal dengan nama penyair besar ini, Dikenal dengan pelopor angkatan 45,karya termasyurnya " AKU" dibuat dengan beberapa versi,tapi jangan salah lho walaupun di buat dengan beberapa versi tapi "gereget" dari makna puisi itu sangatt menonjol.,bahkan aku saja sebagai penulis gadungan di baut geleng-geleng kepala dengan kejeniusannya tentang memaknai sebuah kata., Mungkin bagi yang tidak terlalu mengenal bang Chairil pasti menganggap dia adalah type pembangkang,urakan,penuh dobrakan,tidak memiliki pekerjaan tetap,suka keluyuran,jorok,selalu kekurangan uang,penyakitan,dan tingkah lakunya menjengkelkan,.(wah lengkap tuh ,predikat senimannya.,).tapi jangan salah guys walaupun dia terkenal dengan"pembangkangannya"sehingga dia disebut "Binatang Jalang" ide-ide kejeniusan menulis puisi aku acungi jempol 5,(kaki ku ikut lho/), Dan yang paling aku sukai adalah puisi "AKU".,WOOOOWWWW.,.,I LIKE THAT., Dia menulis karya tersebut umur 20 tahun lho,bayangin jiwa yang labil bisa menciptakan karya yang dapat mengubah hidupnya,sedangkan kita pada umur 20-an berkutat dengan yang namanya"nge-date" alias pacaran.heheheh (sama kaya' yang nulis)., tapi memang keberuntunagn seseorang tidak dapat diperkirakan enam tahun kemudian dia meninggaldunia,dimakamkan di Karet, yang di sebutnya sebagai "daerahku y.a.d " dalam " Yang Terempas dan Yang Putus"- sajak yang ditulisnya beberapa waktu menjelang kematiannya pada tahun 1949.Sejak itu,karya-karyanya hidup ditengah-tengah kita,Ia disebut pelopor 45,oleh karnanya beberapa sajaknya dikenal siapapun yang pernah duduk di bangku sekolah menengah (masa ah.,aku kenal dia SD lho.,.ckckck., tak patut), dalam kelas, Chairil Anwar biasanya diperkenalkan sebagai penyair yang memiliki vitalitas,yang terutama terungkapdalam "AKU".Sajak yang larik terakhirnya mengawali tulisan ini mengandung antara lain bait-bait berikut:Aku ini binatang jalang.,Dari kumpulan terbuang., Biar peluru menembus kulitku.,Aku tetap meradang menerjang., Heeeeeeeemmmmmmmmmmmm.,sebuah barisan kata yang sangat "kuat" ya???? .,Masih penasaran sama Bang Chairil.,??? masih bnayak lho yang akan terulas.,siapa ceweknya?? pernah kerja dimana?? nanti aku ulas lagi kok tenang aja.,hehehh next time ya., 
s  

KARNA.,?

DiSaat Daku Tua


Disaat Daku Tua,bkan lagi diriku yang dulu.,
Maklumilah diriku,bersabarlah dalam menghadapiku.,

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu.,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu,membimbingmu untuk melakukannya.,

Disaat Daku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu.,
Bersabarlah mendengarkanku,jangan memotong ucapanku,Dimasa kecilmu Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali,hingga dirimu terbuai dalam mimpi.,

Disaat Daku membutuhkanmu untuk memandikanku.,
Janganlah menyalahkanku,Ingatlah dimasa kecilmu,bagaimana Daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.,?

Disaat Daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan tekhnologi modern.,
Janganlah menertawaiku,Renungkanlah bagaimana Daku denagn sabarnya menjawab setiap" mengapa?" yang engkau ajukan disaat itu.,

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan.,
Ulurkan tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku,Bagaikan dimasa kecilmu Daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.,

Disaat Daku melupakan topik pembicaraan kita.,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya,Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkan,Daku telah bahagia.,

Disaat engkau melihat diriku menua,Janganlah bersedih.,
Maklumilah diriku,dukunglah Daku,bagaikan Daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.,



Dulu Daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini.,
Kini temanilah Daku hingga akhir jalan hidupku.,
Berilah Daku Cinta kasih dan kesabaranmu.,
Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.,
Didalam senyumku ini,tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.,               

Sari Kata Mutiara

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949


MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957



KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai



Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954

Puisi karya Cak Anwar

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949


MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957



KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai



Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(1948)

Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954